5 Peristiwa Luar Biasa saat Kelahiran Nabi Muhammad: Padamnya Api Abadi Sesembahan Majusi

  • Bagikan
Foto: Ilustrasi Nabi Muhammad/Istimewa

PORTAL SATRIA – Tepat tanggal 12 Rabi’ul Awal Tahun Gajah atau 571 M adalah hari yang  bersejarah bagi umat Islam. Karena nabi terakhir yang membawa risalah suci dari Allah swt lahir di Makkah, Arab Saudi.

Kehadiran sosok yang oleh Cendekiawan Barat Michael H Hart diposisikan sebagai orang paling berpengaruh nomor satu di dunia menjadi titik balik bagi moral bangsa Arab dan manusia secara keseluruhan. Kelahiran bayi yang kelak akan dilantik menjadi nabi agung ini dibarengi dengan sejumlah keistimewaan dan peristiwa menakjubkan.

Berikut ini adalah di antaranya:

1. Padamnya Api Sesembahan Majusi

Agama Majusi merupakan salah satu aliran teologis yang sudah ada jauh sebelum kedatangan agama Islam. Pengikut agama ini dikenal sangat menyarkralkan salah satu unsur alam yaitu api. Bagi mereka, api adalah kekuatan yang bisa memberi perlindungan dari segala macam bahaya serta mampu menganugerahi kesejahteraan bagi umat manusia.

Baca Juga: Kelahiran Nabi Muhammad, Yahudi Mekah: Bayi Ini Adalah Nabi Akhi Zaman

Sebab itu, mereka meyakini api sebagai Tuhan yang harus disembah. Konon, mereka punya api yang tidak pernah padam selama ribuan tahun. Hanya, api ini padam saat Nabi Muhammad lahir.

Dalam satu riwayat Imam al-Baihaqi disebutkan:

لما كانت الليلة التي ولد فيها رسول الله صلى الله عليه وسلم ارتجس إيوان كسرى، وسقط منه أربع عشرة شرفة، وخمدت نار الفرس، ولم تَخمُد قبل ذلك بألف عام، وغاضت بحيرة سَاوة

Artinya, “Pada malam kelahiran Nabi Muhammad saw, balkon istana Kisra runtuh, 14 gereja runtuh, api (sesembahan Majusi) di Persia padam yang sebelumnya menyala selama 1000 tahun, dan gereja Bahira ambles ke tanah.”

Menurut Imam az-Zurqani, selain diriwayatkan Imam al-Baiqahi, hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim al-Khara’iti, Ibnu ‘Asakir, dan Ibnu Jarir ath-Thabari, yang semua sanadnya sampai kepada Hani al-Makhzumi (Imam Abu Abdilah az-Zurqani, Syarh Mawahibul Ladduniyyah, 2012: juz I, halaman 228).

2. Lahir dalam Keadaan Sujud

Jika bayi pada umumnya lahir dalam keadaan menangis dan belum bisa apa-apa, lain lagi dengan Nabi Muhammad yang lahir dalam keadaan sujud.

Imam Jalaluddin as-Suyuti dalam Khasaishul Kubra melaporkan bahwa begitu keluar dari rahim Siti Aminah, Nabi Muhammad sujud lalu mengangkat kedua tangannya seperti orang berdoa. (Jalaluddin as-Suyuti, Khasaishul Kubra, 2017: 82).

Baca Juga: Berikut Kiprah Wali Songo dalam Menyebarkan Agama Islam di Nusantara

3. Lahir dalam Keadaan Sudah Dikhitan

Salah satu kewajiban bagi setiap laki-laki adalah melakukan khitan setelah mencapai usia baligh, meskipun sebaiknya dilakukan lebih dini pada usia kurang lebih tujuh tahun. Salah satu keistimewaan yang dimiliki oleh Nabi Muhammad adalah sudah dalam keadaan dikhitan saat lahir.

  • Bagikan